.

.

Selasa, 07 Oktober 2014

PELAN

Saya menyukai pagi: dengan gerimis atau sinar matahari, saya akan berjalan mengikuti bayang-bayang pohon sepanjang alur, atau sebaliknya,  duduk tiga menit memejamkan mata di depan jendela terbuka. Ada  sisa harum kemuning yang mekar semalam dan bau daun-daun yang lumat di rumput becek. Ada suara burung yang cerewet — ya, pagi adalah suara burung yang cerewet.  Juga suara tokek, bunyi berat yang  sabar satu demi satu, seakan-akan melawan kecepatan detik.
Mungkin saya menyukai pagi karena di sana saya  berlindung dari kecepatan detik.

Meskipun bisa tak bertahan.  Sebab jika pada menit berikutnya saya  buka laptop, akan menghambur apa yang disebut “informasi” — ribuan kata, suara, angka dan  gambar yang desak mendesak,   singkir menyingkirkan: kabar dari situs dot.com, salam dan umpatan dan keluhan minta perhatian di Twitter, foto-foto pamer diri di Facebook, pesan-pesan sejenak dari teman dan orang yang tak dikenal di telpon genggam….Mereka melintas.   Mereka tenggelam. Mereka diingat, tak lengkap. Mereka mungkin statemen, mungkin salah faham yang bergegas.  Mereka berubah.
Di depan laptop, dunia  melawan pagi.
Di depan laptop, di luar iPad, di luar kamar, kita diproyeksikan seolah-olah terancam:  makhluk yang  akan runtuh bila tak bergerak cepat.  Klaus Schwab, pendiri the World Economic Forum, menyebarluaskan kecemasan itu: “Kita bergerak dari sebuah dunia di mana yang besar memakan yang kecil ke arah dunia di mana yang cepat menelan yang pelan.”
Saya tak ingin mengamini  itu. Kecepatan itu riuh rendah. Saya lebih menginginkan apa yang digambarkan Chesterton sebagai “a gift of loneliness, which is the gift of liberty”.  Kesunyian itu mengandung karunia:  kebebasan.

Tapi memang ada, memang makin banyak, orang-orang yang menampik karunia itu: mereka  yang waswas bila tak melakukan apa-apa,    mereka yang tak mengerti bagaimana duduk dengan mata terpejam mendengarkan bunyi hujan dan suara katak di selokan  — orang-orang yang mau cepat-cepat mengakhiri sunyi, orang-orang yang dikerubuti waktu  yang selalu dihitung.
Saya tak pernah merasa merdeka dengan waktu yang dihitung, bukan karena tiap kali dikejar deadline, tapimungkin karena saya datang dari generasi yang berbeda. Di waktu kecil,  di malam hari, sambil terbaring di ambin, saya sering  mendengarkan  suara orang ura-ura membawakan Wedhatama dalam tembang. Ada kalimat  “sepa sepi lir sepah samun” yang tak saya pahami artinya tapi saya rasakan sendunya.  Saya juga datang dari sebuah masa ketika sehabis Isa anak-anak tergolek di samping ibu, dibimbing ke mimpi dengan dongeng yang panjang.
Mungkin sebab itu saya bisa mengerti mengapa Carl HonorĂ© berubah. Ia koresponden pelbagai surat kabar, antara lain The Economist, yang menulis berita-berita luar negeri. Ia mengejar (atau dikejar?) berita dari kota ke kota asing, masuk ke luar bandara dan pesawat, terus menerus menelepon editor dan sumber-sumber berita (dan tak lagi mendengarkan musik di Walkman-nya), tak sempat pula bercerita panjang untuk mengantar tidur anak-anaknya.
Pada suatu saat, ketika ia sedang antri di sebuah bandara, terbaca olehnya sebuah tulisan,  “The One-minute Bedtime Story”.  Eureka! Ia bergembira: akhirnya orang bisa membuat dongeng yang cuma satu menit panjangnya.  Ia perlu kemudahan seperti itu, sebab ia tak bisa melayani permintaan anak-anaknya untuk membawakan cerita yang asyik. Hampir saban malam ia harus menulis, mengirim artikelnya, menjawab sur-el, membaca kabar dan berdikusi.
Tapi bagaimana membawakan dongeng Hans Christian Andersen dalam 60 detik?
Hanya dalam gerak yang pelan, kita bisa menyusuri hidup Si Thumbelina. Sebuah dongeng akan mati ketika ia jadi ikhtisar. Ia tak hidup dengan ketakjuban dari saat ke saat,  sejak si tokoh alit lahir, diculik katak, diselamatkan ikan, kupu-kupu, dan tikus, dan akhirnya mendapatkan pangeran peri-bunga sebagai pasangannya — seraya si burung biru patah hati menyaksikannya pergi.
Carl HonorĂ© pun berubah.  Ia menulis buku In Praise of Slowness.
Yang agak kurang ditekankan HonorĂ© ialah hubungan   gerak yang tak terburu-buru dengan  karunia kesunyian dan kebebasan –  sesuatu yang telah rusak karena zaman berubah dan manusia resah untuk bekerja dan bekerja.  Nietzsche pernah menyebutnya sebagai “kehausan Amerika”.  Bujukan-bujukan berlomba cepat, (“liquor is quicker“, kata penyair Amerika Ogden Nash), juga pertukaran.
Dalam proses itu,      hilang kemampuan orang menghayati waktu sebagai ketakjuban yang selalu baru. Orang pun terus menerus bicara soal “kurang waktu.” Tak ada lagi yang hendak memasuki keheningan “vita meditativa“. Tak ada renungan sebelum tindakan.
Dan lahirlah Twitter, Facebook, san-dek, yang dengan  seketika menembakkan kata. Bila dulu tiap ekspresi yang akan disarkan harus menempuh prosedur berlapis  — ada editor, ada penerbit, ada penyebar –  kini semua itu diterabas. Bersaing cepat, berlomba menarik perhatian, bersaing mau diakui, berlomba teriak. Aku menggebrak, maka aku ada.
Kecepatan dan kekuatan bisa efektif seperti peluru.  Tapi peluru tak perlu nalar dan tak menumbuhkan tukar-pikiran.  “Media sosial” akhirnya hanya (mengutip seorang teman yang mengutip Macbeth untuk ini) “full of sound and fury, signifying nothing“.
Maka saya menyukai pagi. Sesekali masih ada sisa mimpi, ingatan akan dongeng ayah, ninabobok ibu, gema di kepala dari sebuah lagu, novel yang semalam hadir dalam kesendirian dan kesunyian – dalam karunia kebebasan.
Goenawan Mohamad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar